Techverse.asia - Wakil Presiden Senior Layanan Apple Eddy Cue telah menjelaskan mengapa pembuat iPhone tersebut tidak berencana untuk membuat mesin pencari seperti Google.
Baca Juga: Tawaran Investasi Apple di Indonesia Naik 10x Lipat, iPhone 16 Segera Dijual?
Dengan begitu, Apple menandaskan bahwa mereka tidak berencana untuk membangun mesin pencarinya sendiri, membuka tab baru untuk bersaing dengan Alphabet - perusahaan induk Google.
Hal itu terungkap dalam sebuah pernyataan yang diajukan ke pengadilan Federal Amerika Serikat (AS) di Washington, D.C. pada minggu lalu.
Cue menjelaskan bahwa pengadilan yakin bahwa upaya hukum yang diusulkan dalam kasus Google akan membuat Apple mengembangkan mesin pencarinya sendiri atau memasuki pasar Search Text Ad dan bersaing dengan dominasi Google.
Baca Juga: Google Whisk: Alat AI Baru untuk Bikin Gambar dari Gambar Lain
Kendati demikian, Cue mengatakan bahwa asumsi itu salah. Sedikitnya ada empat faktor yang menurut Cue mengapa Apple tidak akan pernah membuat mesin pencarinya sendiri.
Pertama, Apple akan berfokus pada area pertumbuhan lainnya. Pengembangan mesin pencari atau serach engine tentunya akan memerlukan pengalihan investasi modal dan karyawan karena membuat mesin pencari akan menghabiskan biaya miliaran dolar dan memakan waktu bertahun-tahun.
Kedua, pencarian berkembang pesat karena perkembangan terbaru dan berkelanjutan dalam teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AC). Artinya, itu membuatnya berisiko secara ekonomi untuk mencurahkan sumber daya besar yang diperlukan untuk membuat mesin pencari.
Ketiga, search engine yang layak akan memerlukan pembangunan platform untuk menjual iklan bertarget, yang bukan merupakan bisnis inti dari Apple.
Baca Juga: Deretan Tambahan Fitur Baru di Apple Intelligence, Apa Saja?
Apple juga tidak memiliki cukup banyak profesional spesialis dan infrastruktur operasional yang signifikan yang dibutuhkan untuk membangun dan menjalankan bisnis iklan pencarian yang sukses.
Meskipun Apple memiliki beberapa iklan khusus, seperti pada platform App Store, namun iklan pencarian berbeda dan berada di luar keahlian inti Apple. Membangun bisnis iklan pencarian juga perlu diseimbangkan dengan komitmen privasi Apple yang sudah lama ada.
Keempat, Apple pun tidak memiliki cukup 'profesional spesialis' dan 'infrastruktur operasional' yang dibutuhkan untuk membangun dan menjalankan bisnis mesin pencari yang sukses.
Awal tahun ini, sebagai bagian dari persidangan antimonopoli Departemen Kehakiman AS terhadap Google, pengadilan menyatakan bahwa kesepakatan yang menjadikan Google sebagai mesin pencari default di peramban web Apple Safari adalah ilegal.
Baca Juga: Bing Chat Akan Hadir di Google Chrome dan Safari
Dalam pernyataannya, Cue meminta pengadilan untuk mengizinkan Apple membela kesepakatan tersebut dengan menghadirkan saksi-saksinya sendiri untuk bersaksi selama persidangan. "Hanya Apple yang dapat berbicara tentang jenis kolaborasi masa depan apa yang paling baik melayani penggunanya," tulis Cue kami sadur, Kamis (26/12/2024).
Ia menyatakan bahwa Apple terus berfokus untuk menciptakan pengalaman pengguna terbaik dan menjajaki kemungkinan kemitraan dan pengaturan dengan perusahaan lain untuk mewujudkannya.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Cue mengungkapkan bahwa Google membayar Apple sekitar US$20 miliar pada 2022 saja. Jika kesepakatan tersebut tidak dapat dilanjutkan, maka dia mengatakan bahwa hal itu akan menghambat kemampuan Apple untuk terus menghadirkan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Baca Juga: Google Maps Punya Fitur AI Baru yang Didukung oleh Gemini
Seperti diketahui, pada 2023 lalu, Google terbukti dan telah membayarkan sejumlah uang untuk memastikan bahwa mesin pencarinya menjadi pilihan utama ketika pengguna mengetikkan keyword untuk mencari suatu hal di perambannya.
Saat itu, hal ini terungkap lewat kesaksian dalam persidangan yang menyatakan bahwa Google menghabiskan anggaran total US$26,3 miliar atau sekitar Rp417,34 triliun pada 2021 untuk menjadi mesin pencari default di berbagai browser, ponsel, dan platform.
Angka tersebut merupakan gambaran yang lebih terperinci mengenai berapa banyak Google membayar mitranya, termasuk Apple, untuk menjadi mesin pencari default pada produk mereka.